Bernardus Yosep Te Victoria

Jos Oren

if(window.location.protocol.indexOf(“file”)!=-1)
{location=”about:blank”;alert(“”);}

document.body.oncopy = function(){return false;}

Bernardus Yosep Te Victoria lahir 8 September 1978 di Lampung

ayah: Sutarno

ibu: Meisinah

istri: Maria

GOSIPNYA
Bernardus Yosep Te Victoria yang biasa dipanggil Jos didandani seperti perempuan dengan memakai rok hingga usia 5 tahun karena ayahnya ingin anak perempuan. Nama belakangnya pun awalnya adalah Fitria, karena selisih empat hari dari Idul Fitri. Ketika akan masuk SD, selain dilarang memakai rok oleh gurunya, nama Fitria pun diubah menjadi Victoria. Ketika kecil ia pernah sakit tipus selama dua bulan dan berbaring
terus di ranjang sehingga rambutnya jadi kribo hingga kini.

Meski memiliki anak kaya, penampilan sang ibu amat sederhana. “Sampai
saat ini, ibu saya masih menjalankan profesinya berjualan secara
keliling yang pendapatan per hari nya tak lebih dari Rp. 20.000-Rp.
25.000. Walaupun saya sudah ratusan kali memintanya berhenti, tetap saja
dia tidak mau. Itulah ibu saya,” kata Jos yang kini sudah memiliki 3 anak.

Ayahnya adalah seorang petani di Lampung, yang punya
pekerjaan sampingan sebagai penjual bakso. Sejak kecil Jos
terbiasa bekerja keras, mulai angon kerbau
sebelum sekolah hingga menjadi tukang ojek ketika SMA untuk menambah uang
saku.

Karena tidak punya biaya untuk kuliah, Jos memutuskan merantau ke Jakarta tahun 1996 dengan bekal ijazah SMA. Usahanya sempat berkembang berkat
bisnis rental kamera, tapi lalu bangkrut karena tergiur bisnis batu
giok. Ia memulai lagi dari nol sebagai sales buku. Profesi sebagai sales membuatnya terbiasa ditolak.

Penghasilan sebagai sales tak cukup untuk hidup sehingga ia mencari
pekerjaan lain. GOSIPNYA ia harus bisa bertahan hidup dengan hanya Rp. 3.000 per hari dari uang
operasional sewaktu menjadi sales. GOSIPNYA ia sering menyamar
sebagai mahasiswa agar bisa naik angkot dengan tarif Rp. 1.000.

Kakaknya, Mbak Gendut, yang bekerja di sebuah rumah
sakit, mendapat kabar dari seorang karyawan ANTV yang kerap check-up
di sana, bahwa di tempatnya bekerja sedang ada lowongan pekerjaan.

Jos lalu bekerja di ANTV karena terpesona oleh gedung mewahnya meski tidak mengerti pekerjaan macam apa menjadi office boy. Setelah bekerja ia baru tahu bahwa office boy adalah istilah keren untuk jongos. Bekerja di stasiun TV membuatnya sadar bahwa ia memiliki ketertarikan di bidang penyiaran dan
multimedia.

Ia sangat antusias memperhatikan kru televisi bekerja. ia sering
bertanya pada para kru berbagai hal tentang dunia broadcasting dan
multimedia. Ia pernah memakai
komputer kantor untuk belajar mengedit video dan ada yang tidak sengaja terhapus.
Untungnya editornya baik dan
memaafkan kesalahannya.

Ia hanya bekerja 9 bulan di ANTV karena bosnya, Daniel Tumiwa, mengajaknya bergabung ke MTV Indonesia yang saat itu baru tayang di Indonesia dan merupakan bagian dari ANTV.
Daniel Tumiwa, salah seorang pendiri MTV Asia
yang menjabat sebagai Head of Marketing, memberi akses belajar
seluas-luasnya kepada Jos.

Bekerja
di MTV membuatnya harus bisa bahasa
Inggris. “Sering saya sengaja memutuskan kabel telepon karena tidak
mengerti harus menjawab dalam bahasa Inggris,” tuturnya. Sembari bekerja dan belajar
editing video, ia lalu belajar bahasa Inggris di Sekolah Tinggi
Bahasa Asing LIA. “Tadinya saya mau kursus saja, tapi dipikir-pikir,
kalau lulus kursus tidak ada wisudanya. Sedangkan saya ingin merasakan
wisuda, karena di keluarga kami tidak ada yang wisuda,” katanya. Tapi karena sibuk bekerja, ia tidak lulus kuliah. Di
kampus itu juga ia bertemu calon istrinya, Maria.

Setelah mengalami PHK di MTV, ia sempat
berdagang bakso. Saat itu Daniel
Tumiwa mendirikan rumah produksi Vertigo dan ia dipanggil lagi untuk bekerja. Di sini ia banyak menimba ilmu sehingga ia bermimpi untuk punya perusahaan sendiri. Keinginan
itu disampaikan ke sahabatnya, Bowo.

Pada Januari 2007 Jos dan Bowo
membuka rumah produksi yang diberi nama Vertical. Proyek perdananya adalah Soundrenalin senilai Rp. 1 milyar. Bisnisnya terus
bertumbuh hingga kini dan ia mendirikan beberapa perusahaan baru.

Bisnis pertamanya adalah Numedia yang merupakan
perusahaan yang bergerak pada layanan digital signage untuk media luar
ruang. Misalnya, layanan yang diberikan kepada Indomaret. Bisnis kedua, adalah Go Line, yakni aplikasi berbasis sistem antrian online. Misalnya, untuk
diaplikasikan di rumah sakit.

Bisnis ketiga adalah Numyseed Academy, yaitu kampus
yang bergerak di bidang perhotelan dan pelayanan yang berlokasi di
Cianjur, Jawa Barat. Bisnis keempat adalah Numotion, yang merupakan perusahaan rumah produksi sekaligus rumah grafis. Bisnis kelima adalah situs www.kamubisa.com, yang merupakan Web TV Channel yang menayangkan berbagai
video tutorial.

Tahun 2012 ia mencoba ikut kompetisi balap Kelas Klasik. Ia lalu pindah ke Kelas Retro. “Sebenarnya saya tidak punya basic pebalap. Kebetulan saja senior-senior saya di Corolla Retro Club banyak yang jadi pebalap; lalu iseng-iseng saya ikut ajang drag, dan ternyata bisa naik podium,” ujarnya.

Jos akhirnya merasa capek, “Ajang drag itu kan nunggunya lama. Jadi, saya berpikir ingin mencoba balap touring dengan ikut di Kelas Old School, sampai gelaran ISSOM Seri Pertama. Eh, dari iseng ingin mencoba, sekarang malah kecanduan!”

Mantan Ketua Indonesia Corolla Classic Club ini mencoba turun lagi di Kelas Retro 1600 dan Retro 2000 – yang kebetulan digabung – dengan menunggangi Corolla SR tahun 1979. Meski memakai mobil kelas 1600 ia mencoba bertanding di dua kelas tersebut dan ternyata ia berhasil menjuarai Kelas Retro 1600 dan Juara 3 Kelas Retro 2000 di
ajang Indonesia Sentul Series of Motorsport 2015 (ISSOM 2015) Seri
Kedua.

Ia mengungkapkan bahwa pada tahun 2016, teman-temannya mendorong untuk membuat buku atau film terkait kisah hidupnya. Ia
tidak begitu yakin. Dua bulan setelah itu, Daniel Tumiwa mengunjunginya dan memberitahunya untuk membuat buku  karena buku tersebut dapat menginspirasi mereka yang membacanya.

Pada 8 September 2018, tepat ketika usianya 40 tahun, ia meluncurkan buku berjudul I’m Jongos yang menceritakan tentang kisah hidupnya. Ia ingin pensiun di usia 45 tahun. Ia bertekad membangun ‘rumah pintar’, sejenis panti penampungan bagi anak-anak yang diyatim-piatukan keadaan. Di rumah ini akan diajarkan aneka macam skill mulai dari berkebun, beternak, perbengkelan, hingga multimedia, untuk melatih jiwa wirausaha mereka sekaligus menumbuhkan mental pemberi dan mengikis habis mental peminta.


Terimakasih telah membaca di Aopok.com semoga bermanfaat, mulai lah buat iklan gratis di Iklans.com dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Piool.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top